MARKET REVIEW :: NEWS :: ANNOUNCEMENT  
   
Market Report Rabu, 16 April 2008
16 April 2008 

Bagusnya data inflasi dan manufaktur AS mengangkat dollar menguat terhadap mata uang utama dunia lainnya pada sesi perdagangan Selasa kemarin. Data tersebut mengindikasikan bahwa Federal Reserve mungkin akan tidak seberapa agresif dalam memangkas tingkat suku bunganya lagi.

Indeks sektor manufaktur hasil survai New York fed melonjak hampir 23 poin pada bulan Maret, dari -22,2 menjadi 0,6. Sementara harga-harga produsen meningkat 1,1 persen bulan lalu, meskipun dengan melonjaknya harga makanan dan minyak peningkatan tersebut tidaklah seberapa mengejutkan.

Laporan lainnya dari Departemen Keuangan AS semalam menunjukkan investor luar negeri menambah pembelian aset-aset berdenominasi dollar pada bulan Februari. Total bersih arus modal masuk sebesar $72.5 milyar pada bulan Februari melebihi ekspektasi market sekaligus mampu menutup defisit perdagangan pada bulan yang sama yang nilainya mencapai $62.3 milyar. Peningkatan tersebut mengurangi kekhawatiran akan dampak krisis kredit bagi perekonomian AS.

Pada akhir sesi perdagangan Selasa, euro diperdagangkan di kisaran 1.5786 terhadap dollar, melemah sekitar 0,3 persen dari catatan pembukaan. Minggu lalu, euro sempat menguat hingga 1.5913 terhadap dollar, rekor tertinggi sejak diluncurkannya mata uang tunggal Eropa tersebut tahun 1999.

Turut menambah sentimen negatif bagi euro kemarin adalah data hasil survai ZEW untuk bulan April. Untuk pertama kalinya dalam 3 bulan terakhir, para analis yang disurvai berubah lebih pesimis mengenai prospek perekonomian Zona Euro. Meski demikian, ECB masih tetap kukuh dengan sikap hawkish-nya. Kemarin, Gubernur ECB Jean-Claude Trichet dan anggota ECB Jurgen Stark menegaskan kembali bahwa ECB lebih fokus pada usaha mengendalikan laju inflasi.

Para analis berpendapat masih ada peluang bagi euro menguat menembus level 1.60 terhadap dollar. Namun dengan memudarnya momentum, market dapat berharap akan ada peluang rebound signifikan bagi dollar pada semester ke dua tahun ini.

Terhadap yen Jepang, dollar diperdagangkan di kisaran 101.81, menguat sekitar 0,7 persen.

Demikian pula terhadap franc Swiss, dollar ditutup menguat sekitar 0,75 persen di kisaran 1.0065.

Sedangkan poundsterling melemah sekitar 0,7 persen dengan ditutup di kisaran 1.9623 terhadap dollar. Data CPI Inggris yang dirilis kemarin menunjukkan bahwa produsen tidak mampu menyalurkan naiknya biaya produksi pada konsumen. Kian menambah bukti seiusnya masalah yang dihadapi perekonomian Inggris adalah data harga-harga rumah dari the Royal Institute of Chartered Surveyors (RICS) yang menunjukkan penurunan paling tajam sejak 30 tahun.

   
     

 

   PT. ASIA KAPITALINDO KOMODITI BERJANGKA