MARKET REVIEW :: NEWS :: ANNOUNCEMENT  
   
Market Report Jum\'at, 18 April 2008
18 April 2008 

Dollar menguat pada sesi perdagangan Kamis seiring dengan lebih optimisnya para investor mengenai prospek sektor finansial AS yang bermasalah. Laporan keuangan perusahaan-perusahaan besar AS yang dirilis minggu ini, sejauh ini tidak mengungkapkan adanya perkembangan-perkembangan negatif.

Dollar juga mendapat support atas euro setelah pejabat Zona Euro mengatakan penguatan euro belakangan ini tidak diinginkan.

Sebelumnya, euro sempat menguat hingga menyentuh rekor tertinggi baru di kisaran 1.5982 terhadap dollar. Namun setelah pimpinan Eurogroup Jean-Claude Juncker melontarkan keluhannya tentang penguatan mata uang tunggal Eropa tersebut terhadap dollar, euro berbalik melemah tajam. Eurogroup terdiri atas para menteri keuangan dari 15 negara pengguna euro.

Hingga akhir sesi perdagangan Kamis kemudian, euro ditutup di kisaran 1.5890 terhadap dollar, melemah sekitar 0,3 persen dari level pembukaan. Dalam pernyataannya kemarin, Juncker juga mengatakan bahwa market salah mengartikan pernyataan G7 akhir pekan lalu yang mengungkapkan kekhawatiran mengenai fluktuasi tajam mata uang-mata uang utama dunia.

Pernyataan Juncker keluar saat market benar-benar membutuhkan alasan untuk menjual euro. Tidak heran jika dampaknya terhadap euro begitu signifikan. Meski demikian, perlu dicatat bahwa Juncker bukan Trichet. Bukan pertama kalinya Juncker mengungkapkan ketidaknyamanannya atas penguatan euro. Bulan Maret lalu, Juncker juga pernah melontarkan pernyataan senada bahwa euro terlalu kuat. Karena itu, fokus lebih pantas ditujukan pada Jean-Claude Trichet. Sebagai gubernur ECB, Trichet punya wewenang untuk mempengaruhi kebijakan moneter dan nilai tukar mata uang.

Sejauh ini, ECB masih kukuh dengan sikap hawkish untuk lebih fokus pada masalah inflasi. Penguatan mata uang dinilai ECB sebagai salah satu cara untuk menekan laju peningkatan inflasi. Sementara fakta bahwa defisit perdagangan Zona Euro berubah menjadi surplus pada bulan Februari menjadi bukti bahwa penguatan euro tidak berdampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi.

Selama tidak ada komentar keberatan dari pejabat ECB, komentar Juncker maupun pejabat-pejabat Zona Euro lainnya tidak akan cukup untuk menghentikan tren penguatan euro.

Terhadap yen, dollar menguat sekitar 0,75 persen dengan ditutup di kisaran 102.50 pada akhir sesi. Demikian pula terhadap franc Swiss, dollar ditutup menguat 0,7 persen di 1.0067.

Indeks hasil survai Philadelphia Fed untuk bulan Aprils sempat memangkas gain dollar. Angka aktual indeks Philly Fed bulan April turun tajam menjadi -24,9 dari -17,4 pada bulan sebelumnya. Namun tidak lama kemudian aksi beli dollar berlanjut kembali terutama setelah Presiden Dallas Fed Richard Fisher mengindikasikan keengganan untuk memangkas suku bunga. Semalam, Fisher mengatakan kebijakan moneter yang akomodatif dapat memicu inflasi dan lebih penting bagi Fed mengambil sikap waspada daripada agresif.

Di lain pihak, poundsterling justru ditutup menguat sekitar 0,9 persen di 1.9896 terhadap dollar. Penguatan poundsterling tersebut mencerminkan harapan market bahwa Bank Sentral Inggris (BoE) akan segera mengambil langkah untuk menyelamatkan perekonomian Inggris. Diberitakan kemarin bahwa Departemen Keuangan Inggris akan menyetujui dan mengumumkan program yang bertujuan untuk menambah likuiditas market. Program tersebut nantinya akan menandai perubahan besar BoE yang selama ini dikenal sebagai penganut paham Laissez-faire (pasar bebas).

   
     

 

   PT. ASIA KAPITALINDO KOMODITI BERJANGKA