| |
|
Market Report Senin, 21 April 2008
21 April 2008
Dollar menguat signifikan terhadap yen, euro, dan mata uang utama dunia lainnya pada sesi perdagangan Jumat seiring dengan munculnya kembali minat investasi pada aset-aset beresiko tinggi. Penguatan Dow Jones sejak awal pekan lalu menjadi indikasi kembalinya risk appetite tersebut.
Turut menambah sentimen bullish bagi dollar pada sesi perdagangan Jumat lalu adalah laporan keuangan beberapa perusahaan besar AS yang mengkisi kekhawatiran market tentang dampak krisis kredit bagi perekonomian AS.
Di antara perusahaan besar tersebut, Citigroup Inc, bank terbesar AS, membukukan kerugian per kuartal sebesar $5,1 milyar. Namun, saham Citigroup justru meningkat karena para pemodal merasa optimis dengan usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah kredit dan menekan biaya. Berita tersebut menimbulkan sentimen di kalangan para pelaku pasar bahwa perekonomian AS telah melalui fase terburuknya.
Hingga akhir sesi perdagangan Jumat, dollar terpantau menguat sekitar 1,2 persen terhadap yen di kisaran 103.76. Sebelumnya, dollar sempat menyentuh kisaran tertinggi 104.64 terhadap yen, tertinggi sejak akhir Februari lalu. Tidak hanya versus dollar, yen juga melemah terhadap mata uang lainnya sebagai dampak dari munculnya kembali risk appetite. Sementara pernyataan Gubernur Bank Sentral Jepang (BoJ) Masaaki Shirakawa Jumat lalu bahwa pertumbuhan akan mendapatkan kembali momentumnya setelah sementara melambat tidak digubris market.
Terhadap franc Swiss, alternatif carry trade selain yen Jepang, dollar juga menguat hingga kisaran tertinggi lima minggu di kisaran 1.0282 sebelum kemudian ditutup di kisaran 1.0183 pada akhir sesi, masih terhitung menguat sekitar 1,2 persen dari level pembukaan sesi perdagangan Jumat.
Sementara itu, euro berlanjut melemah hingga kisaran 1.5709 terhadap dollar dan ditutup melemah sekitar 0,6 persen di kisaran 1.5798 pada akhir sesi. Melemahnya euro dalam dua sesi perdagangan berturut-turut memunculkan pertanyaan apakah tren penguatan euro mulai berakhir.
Data-data perekonomian Zona Euro sendiri masih cukup solid meski menghadapi ancaman meningkatnya tekanan inflasi. Jumat lalu, data harga-harga produsen Jerman meningkat 0,7 persen untuk bulan Maret, laju peningkatan tercepat dalam 15 bulan terakhir. Peningkatan tersebut tentunya menambah alasan para pejabat ECB yang selama ini tak henti-hentinya mengingatkan akan pentingnya mengendalikan laju inflasi.
Demikian pula dollar Australia, ditutup melemah sekitar 0,3 persen di kisaran 0.9330 terhadap dollar AS.
Sedangkan poundsterling justru ditutup menguat sekitar 0,25 persen dengan ditutup di 1.9944 terhadap dollar. Dengan demikian, dalam tiga sesi perdagangan terakhir, poundsterling telah menguat sekitar lebih dari 300 poin terhadap dollar. Penguatan poundsterling tersebut merupakan wujud dari harapan bahwa Bank Sentral Inggris (BoE) dengan rencana-rencananya akan mampu membawa perekonomian Inggris keluar dari krisis kredit yang mulai membelit sebagaimana yang terjadi pada perekonomian AS. |
|
|