MARKET REVIEW :: NEWS :: ANNOUNCEMENT  
   
Market Report Selasa, 22 April 2008
22 April 2008 

Tanpa ada data perekonomian AS yang dirilis semalam, dollar melepas kembali sebagian gain yang dikumpulkannya Jumat lalu. Melemahnya dollar merupakan dampak dari berita mengenai Bank of America (BoA), bank terbesar ke dua AS, menjadi korban terakhir krisis kredit subprime.

BoA melaporkan 77 persen penurunan pemasukan bersih dengan provisi untuk kerugian kredit mencapai $6 milyar. Demi meningkatkan kapital, BoA terpaksa menjual sebagian saham berprospek cerahnya di Construction Bank China. Tahun 2005 lalu, BoA menanamkan modal sebesar $3 milyar pada Construction Bank dan kini investasi tersebut bernilai $16 milyar.

Serangkaian kabar buruk dari sektor finansial AS berdampak negatif bagi saham-saham AS sekaligus dollar sendiri. Dollar berbalik melemah terhadap sebagian besar mata uang utama dunia setelah dirilisnya laporan BoA.

Di lain pihak, dari Eropa, komentar bernada hawkish mengenai inflasi dari Bank Sentral Eropa (ECB) menambah sentimen positif bagi euro. Anggota ECB Klaus Liebscher kemarin mengatakan tidak ada alasan untuk pesimis mengenai pertumbuhan ekonomi Zona Euro. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ECB akan masih mempertahankan tingkat suku bunganya dalam beberapa jangka waktu ke depan.

Pada akhir sesi perdagangan market New York Senin, euro terpantau di kisaran 1.5905 terhadap dollar, menguat sekitar 0,6 persen dari catatan pembukaan. Dengan demikian euro membuka kembali peluang untuk menembus level 1.60 terhadap dollar.

Memang tidak ada data penting perekonomian Zona Euro yang dirilis kemarin, namun meningkatnya tekanan inflasioner memicu spekulasi bahwa langkah ECB berikutnya bisa jadi malah menaikkan suku bunganya. Meskipun data-data perekonomian lambat laun memburuk, fakta bahwa pertumbuhan harga makin melebihi level target ECB membuat bank sentral Eropa tersebut makin tidak nyaman.

Di samping Liebscher, anggota ECB lainnya Erkki Liikanen juga mengingatkan market bahwa ancaman inflasi benar adanya.

Sementara itu, franc Swiss menguat tajam menyusul data inflasi yang melebihi ekspektasi market. Harga-harga produsen Swiss meningkat 0,6 persen bulan lalu, dua kali lebih tinggi dari ekspektasi market. Versus dollar, franc Swiss ditutup menguat 0,9 persen di kisaran 1.0086.

Demikian pula terhadap yen Jepang, dollar ditutup melemah sekitar 0,6 persen di kisaran 103.23.
Turut menambah sentimen negatif bagi dollar adalah harga minyak dunia yang melonjak hingga rekor tertinggi baru di level US$ 117.60 per barrel.

Sedangkan poundsterling justru melemah terhadap dollar. Ditutup di kisaran 1.9790, poundsterling terhitung melemah sekitar satu persen terhadap dollar. Melemahnya poundsterling dalam hal ini disebabkan karena market tidak puas dengan tawaran Bank Sentral Inggris (BoE) menukar obligasi pemerintah senilai 50 milyar poundsterling untuk hutang hipotek perbankan demi membantu mereka melalui krisis kredit.

Telah sejak lama, BoE menolak untuk mengikuti langkah Federal Reserve karena BoE tidak mau membina lingkungan di mana bank dan lembaga keuangan lainnya akan tergantung pada umpan yang diberikan bank sentral. Paham laissez-faire (pasar bebas) BoE akhirnya tunduk pada kritikan-kritikan, memaksa BoE pasrah pada tekanan politis dan ekonomi. Sebagai bank sentral yang dikenal paling cerdik, market rupanya menilai langkah yang diambil BoE saat ini merupakan salah satu wujud “kekalahan” BoE.

   
     

 

   PT. ASIA KAPITALINDO KOMODITI BERJANGKA