MARKET REVIEW :: NEWS :: ANNOUNCEMENT  
   
Market Report Kamis, 24 April 2008
24 April 2008 

Setelah menyentuh rekor terendah baru dalam sejarah versus euro pada sesi perdagangan Selasa lalu, aksi jual dollar gagal berlanjut pada sesi perdagangan Rabu. Euro justru melemah tajam terhadap dollar kemarin menyusul lemahnya data perekonomian Zona Euro yang dirilis kemarin dan komentar dari para pejabat Eropa yang mengindikasikan bahwa melemahnya dollar berdampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi Zona Euro.

Terhadap dollar, euro ditutup melemah 0,7 persen di kisaran 1.5881 pada akhir sesi perdagangan Rabu. Indikator aktivitas sektor manufaktur, PMI Zona Euro bulan April, turun hingga catatan terendah dalam hampir tiga tahun. Laporan lainnya menunjukkan aktivitas sektor manufaktur Jerman juga mengalami penurunan.

Demand terhadap mata uang tunggal Eropa tersebut semakin berkurang kemudian setelah anggota Dewan Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) Christian Noyer melontarkan komentar yang mengikis spekulasi akan dinaikkannya tingkat suku bunga ECB. Sebagai tambahan, Jean-Claude Juncker, ketua para menteri keuangan negara-negara anggota euro, mengatakan nilai tukar euro saat ini terlalu tinggi.

Dari segi tekhnikal, berbalik melemahnya euro setelah menyentuh rekor tertinggi menimbulkan pertanyaan apakah koreksi tersebut hanya bersifat sementara atau justru awal dari tren baru melemahnya euro terhadap dollar. Pergerakan euro tersebut mengindikasikan bahwa tidak ada cukup minat spekulasi untuk menggiring euro berlanjut menguat dalam jangka pendek, terutama dengan data perekonomian dan komentar para pejabat berubah lebih berpihak pada dollar.

Terhadap yen Jepang, dollar ditutup menguat 0,6 persen di 103.44. Dengan minimnya data dan faktor penggerak market lainnya, para pelaku pasar kesulitan dalam mencari petunjuk mengenai apakah minat investasi masih tinggi. Data perekonomian Jepang sendiri menunjukkan saldo neraca perdagangan Jepang lebih lemah dari ekspektasi, meski surplus masih meningkat jika dibandingkan dengan saldo bulan lalu. Penguatan yen rupanya mulai berdampak negatif bagi ekspor Jepang sementara di lain pihak impor meningkat sebagai akibat dari melonjaknya harga minyak.

Sementara itu, poundsterling tertekan setelah data menunjukkan betapa seriusnya masalah yang dihadapi sektor perumahan Inggris. Data Mortgage Approvals Inggris untuk bulan Maret jatuh ke rekor terendah dalam sejarah, menegaskan bahwa Bank Sentral Inggris (BoE) mungkin sekali akan kembali memangkas suku bunganya. Terhadap dollar, poundsterling ditutup melemah 0,9 persen di kisaran 1.9788.

Sedangkan terhadap franc Swiss, dollar berhasil membukukan gain signifikan lebih dari satu persen dengan diperdagangkan di kisaran 1.0150 pada akhir sesi.

Dollar berpeluang berlanjut menguat hingga sisa pekan ini. Namun untuk pekan depan akan lain lagi ceritanya dengan dijadwalkannnya rapat kebijakan suku bunga Federal Reserve dan laporan Non-Farm Payrolls. Masalah bagi perekonomian AS masih jauh dari kata berakhir. Non-Farm Payrolls terutama diprediksikan akan berlanjut menurun sebagaimana halnya belanja konsumen, mengindikasikan tugas Fed masih menumpuk ke depannya.

   
     

 

   PT. ASIA KAPITALINDO KOMODITI BERJANGKA